Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fauna

16 Jenis Elang Jawa

1. Elang Hitam ( Ictinaetus malayensis / Indiana Black Eagle) Temnick, 1822 Burung berukuran sedang ( 70cm ), namun tampak besar ketika terbang. Cukup dominan dalam hal bertarung sehingga memiliki survival rate yang cukup tinggi. Tersebar di ketinggian 300 - 2000mdpl. Cukup umum dijumpai di  hutan primer  hingga perkebunan, terkadang suka nyelonong masuk ke desa pinggir hutan. Sesuai namanya, elang ini berwarna hitam kelam kecuali pada individu muda yang memiliki corak menyerupai  Elang Brontok . Ciri Khas Sayap yang menjari khas, kokoh dan lebar membentang, terlihat sangat besar dengan ekor yang panjang. Dewasa: Warna bulu hitam pekat, kecuali pada ekor yang memilki corak agak kecoklatan. Remaja: Dada bercorak garis seperti  Elang Brontok  fase terang. Sera kuning, kaki kuning, jari kelingking pendek tidak proporsional. Kebiasaan Terbang  soaring  atau  gliding  sambil terkadang mengeluarkan suara seperti Elang - ular Bido. Cukup...

Elang Jawa

ELANG JAWA Waktu mencari sumber kekuatan binatang untuk Nusa, Elang Jawa bukanlah pilihan pertama, tadinya pilihan binatangnya jatuh kepada Badak bercula satu, karena yang umumnya orang tahu bahwa binatang yang dilindungi dari pulau jawa yang terkenal adalah badak bercula satu, tapi karena badak dirasa tidak lazim untuk seorang ranger merah, dipilihlah elang Jawa. Elang Jawa ( Nisaetus bartelsi ) adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Banyak yang menghubungkan satwa ini dengan lambang Negara Republik Indonesia, yaitu Garuda, walaupun pada kenyataannya keduanya sama sekali berbeda. Tahun 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. Ciri-ciri Kepala elang Jawa  berwarna coklat kemerahan, dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjangnya hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan, kadang Nampak keemasan bila terkena sinar matahari. Jambulnya hitam dengan ujung putih, mahkota dan kumis berwarna hitam, s...

Anoa Fauna Endemik Khas Sulawesi

Anoa  adalah satwa endemik pulau Sulawesi, Indonesia. Anoa juga menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi Tenggara. Satwa  langka  dan dilindungi ini terdiri atas dua spesies (jenis) yaitu: anoa pegunungan ( Bubalus quarlesi ) dan anoa dataran rendah ( Bubalus depressicornis ). Kedua satwa ini tinggal dalam hutan yang jarang dijamah manusia. Kedua spesies anoa tersebut hanya dapat ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya. Baik Anoa Pegunungan ( Bubalus quarlesi ) maupun Anoa Dataran Rendah ( Bubalus depressicornis ) sejak tahun 1986 oleh  IUCN Redlist  dikategorikan dalam binatang dengan status konservasi  “Terancam Punah” ( Endangered ; EN) atau tiga tingkat di bawah status “Punah”.

Burung Cendrawasih Fauna Khas Indonesia

Burung Cendrawasih Terindah di Dunia  - Ada lebih dari tiga lusin spesies dalam keluarga Paradisaeidae, atau lebih dikenal dengan bird of paradise. Ada sekitar 13 Genus dari burung-burung ini dan yang paling terkenal adalah anggota genus Paradisaea. Di Indonesia kita menyebutnya dengan burung cendrawasih. Bercirikan dengan warna yang mencolok dan cerah, bulu berwarna kuning, biru, merah, dan hijau. Dengan warna-warna yang demikian mereka menjadi burung paling indah dan menarik di dunia, sehingga disebut sebagai burung dari surga. Burung cendrawasih banyak ditemukan di Papua atau Papua Nugini dan pulau-pulau sekitarnya, termasuk juga Australia Timur. Sayangnya keberadaan burung ini semakin berkurang seiring dengan banyaknya perburuan liar yang tidak bertanggung jawab. 1. Lesser bird of paradise (Paradisaea minor) The Lesser bird of paradise dikenal dengan nama Cendrawasih kuning kecil. Burung ini berukuran sedang dengan panjang sekitar 32 cm, berwarna merah-coklat dengan mahkot...